Tuesday, January 1, 2019

Tes Baca Al-Qur'an Dinilai Belum Perlu, PA 212: Keislaman Capres di Bawah Rata-Rata

Ketua Panitia Kongres Alumni 212 Bernard Abdul Jabbar (Aulia Bintang Pratama)
Jurnalpolitik.id - Polemik uji baca Al-Quran yang diusulkan oleh DAI Aceh juga ditanggapi oleh Persaudaraan Alumni (PA) 212, Bernard Abdul Jabbar. Menurut PA 212, tes baca Al-Quran tak perlu dilakukan karena keislaman para capres di bawah rata-rata.

"Sebenarnya kalau melihat itu sih memang belum perlu karena bagaimana pun juga kita melihatnya capres ini kan, kita lihat juga lihat keislamannya masih di bawah rata-rata, kalau itu mungkin di Aceh silakan-silakan saja, karena Aceh itu merupakan ikon untuk qanun syariat Islam," ujar Bernard dikutip dari detik (31/12).

Baca Juga: KPU soal Tes Baca Al-Qur'an: Bukan Syarat Pencalonan Capres-Cawapres

Lebih lanjut, ia mengatakan pelaksanaan tes baca Al-Quran sangat mungkin dilakukan untuk kepala daerah di Aceh karena Aceh merupakan salah satu provinsi yang menjadi ikon penerepan syariat Islam.

Namun, untuk di Indonesia sendiri, Bernard menilai tes tersebut masih belum relevan.

"Kalau di sana wali kota, bupati atau gubernur ya bisa saja diterapkan aturan tes bacaan Alquran-nya. Ini kan kebetulan untuk Pilpres ini, kalau misal nanti salah satu capres agama lain, apakah perlu juga? Kan nggak juga, artinya kita melihat kondisi bahwa apa yang kemudian diterapkan di Aceh itu sangat memungkinkan para kepala daerah di sana karena undang-undang di sana itu berlaku. Kalau secara keseluruhan ya tentunya bahwa bisa nanti ke depannya itu wajib bagi muslim yang jadi calon itu untuk tes baca Alquran, tapi memang untuk saat ini belum bisa dilakukan dulu," imbuhnya.

Bernard mengatakan tak ada undang-undang yang mengatur terkait pelaksanaan tes baca Alquran untuk capres. Penerapan usulan itu juga disebut Bernard bakal memunculkan persoalan yang cukup kompleks.

"Sekarang kalau tes baca Alquran, misalkan, kalau dua-duanya nggak bisa Alquran, dua-duanya mau digugurkan? Kan nggak juga. Artinya melihat kondisi dan situasi kalau itu untuk capres dan cawapres hari ini memang belum bisa dilakukan tapi kalau untuk ke depannya bagi yang muslim yang memang bisa untuk itu, ya bisa dilakukan tes untuk itu. Kalau kepala negaranya misalkan nanti ada yang beragama lain, kan juga nggak harus, ini kan UU yang diberlakukan tidak ada syarat-syarat capres harus baca Alquran, nggak ada dalam UU Pemilu yang kemudian dilakukan. Kalau misalnya dilakukan mungkin kalau orang nasrani jadi capres apakah akan juga dites dengan injil, atau gimana? kan nggak juga," tuturnya.

Baca Juga: Tes Baca Al-Qur'an Dinilai Tak Perlu Diadakan, Tim Prabowo: Kita Cari Pemimpin Majemuk

Sebelumnya, Ikatan Dai Aceh berencana mengadakan tes baca Alquran capres-cawapres.

Ketua Dewan Pimpinan Ikatan Da'i Aceh, Tgk Marsyuddin Ishak mengamini hasil tes baca Alquran tidak akan mempengaruhi sikap KPU. Namun, dia berharap tes itu dapat menyudahi politik identitas yang marak di ruang publik.

"Untuk mengakhiri polemik keislaman capres dan cawapres, kami mengusulkan tes baca Alquran kepada kedua pasangan calon," kata Marsyuddin di Banda Aceh, Sabtu (29/12).

Rencananya, tes membaca Alquran dilaksanakan di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada 15 Januari 2019.

"Tes membaca Alquran akan dilaksanakan di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada tanggal 15 Januari 2019," kata Marsyuddin.
close